Menjalani Bagianku, Melepaskan Sisanya
Published:
Tulisan sebelumnya, Cerita di Balik The Art of Olympiad Geometry, banyak bercerita tentang sesuatu yang berhasil kubangun—sebuah buku, ide-ide di dalamnya, dan perjalanan panjang hingga akhirnya semuanya bisa menjadi nyata. Kali ini, aku ingin bercerita tentang sesuatu yang agak berbeda: tentang hal-hal yang justru tidak bisa kubentuk sesuai keinginanku.
Dulu, aku cukup percaya bahwa selama aku berusaha cukup keras, selalu ada sesuatu yang bisa kuubah. Seseorang mungkin bisa berubah. Cara seseorang memandang sesuatu mungkin bisa berubah. Dan mungkin, kalau aku melakukan semuanya dengan benar, hasil akhirnya juga akan mengikuti yang kuharapkan.
Ternyata, tidak selalu begitu.
Butuh cukup banyak pengalaman hingga akhirnya aku memahami satu hal yang sekarang terdengar sederhana: ada bagian yang memang menjadi bagianku untuk dijalani, dan ada bagian lain yang harus kubiarkan berjalan tanpa kendaliku.
Saat Aku Ingin Mengubah Cara Orang Melihat Matematika
Saat awal berkuliah, aku punya keinginan untuk mengubah cara orang lain memandang matematika. Aku ingin mereka melihat sisi lain dari matematika yang mungkin tidak banyak mereka kenal. Karena itu, aku mencoba menjadi asisten dosen. Pengalaman pertamaku dimulai dari Kalkulus 1 untuk mahasiswa baru, bersama dua teman yang sangat suportif.
Kami berusaha membuat proses belajarnya senyaman mungkin. Aku mencoba memberi mereka ruang untuk belajar dan mengerjakan tugas, menyiapkan modul yang cukup lengkap, dan memastikan bahwa apa yang kusampaikan benar-benar kupahami dengan baik. Saat itu, aku menyukai antusiasme mereka. Tentu masih ada yang kesulitan, tetapi bagiku itu adalah bagian yang wajar dari proses belajar.
Pengalaman ketigaku sebagai asisten, pada mata kuliah Struktur Aljabar II, terasa berbeda. Mata kuliahnya memang tidak mudah, dan di tengah kesibukan yang cukup padat aku tetap mencoba memberikan yang terbaik. Namun hanya sedikit mahasiswa yang benar-benar antusias. Lama-lama, rasanya aku hanya berinteraksi dengan sebagian kecil kelas.
Aku tidak pernah mempermasalahkan mahasiswa yang belajar atau mengerjakan tugas bersama. Bahkan, aku justru menyarankan mereka untuk saling membantu ketika belajar. Namun untuk ujian, aku merasa harus menetapkan batas. Kelasku cukup fleksibel; simulasi UTS dan UAS dilakukan secara daring dan dikumpulkan satu hari kemudian. Pada saat yang sama, aku juga harus berhadapan dengan kemungkinan penggunaan AI dalam pengerjaan ujian, sesuatu yang sejak awal sudah dilarang.
Aku berusaha bersikap tegas, tetapi setelah semuanya selesai justru muncul pertanyaan lain di kepalaku: apakah aku sudah melakukan hal yang tepat? Bagaimana kalau aku salah menilai seseorang?
Bersikap tidak peduli mungkin jauh lebih mudah. Ketika memilih untuk peduli, aku ternyata juga ikut membawa keraguan dan tanggung jawabnya. Pada akhirnya, aku berhenti mengambil asistensi karena merasa tanggung jawab itu terlalu berat. Bersamaan dengan itu, keinginanku untuk mengubah cara orang lain memandang matematika perlahan ikut melemah.
Melihatnya kembali, aku mulai membedakan antara tanggung jawabku sebagai pengajar dan harapan yang kubebankan pada diriku sendiri. Caraku menjelaskan dan menilai tetap perlu dievaluasi. Tetapi membuat semua orang akhirnya menyukai matematika seperti aku menyukainya bukan sesuatu yang bisa kujamin.
Ketika Aku Mengira Usahaku Akan Cukup
Belakangan aku sadar, pola yang sama ternyata tidak hanya muncul ketika aku berada di depan kelas. Jauh sebelum itu, aku pernah melakukan hal yang kurang lebih sama kepada seseorang yang jauh lebih dekat denganku.
Aku pernah menjalani hubungan selama beberapa tahun dan harus menerima cukup banyak hal yang pahit di dalamnya. Saat itu, aku terlalu percaya bahwa usaha yang cukup akan selalu menghasilkan perubahan. Setiap kali sesuatu yang menyakitkan terjadi, aku dengan mudah memaafkan. Aku selalu berpikir, mungkin aku hanya belum berusaha cukup keras.
Dan ketika hal yang sama terjadi lagi, aku tetap berpikir seperti itu.
Ada banyak malam ketika aku hanya bertarung dengan perasaanku sendiri. Rasanya ingin sekali berbicara kepada seseorang, tetapi sering kali yang kulakukan justru terus menatap layar, doom scrolling tanpa arah, kadang sampai hampir subuh. Aku pernah benar-benar menjadi bagian dari stereotip “mas-mas bengong di kursi Indomaret”—bedanya, waktu itu aku duduk di belakang UM sambil melihat gerimis turun. Setelah semuanya, aku juga jadi membawa satu hal lain: rasa sulit percaya kepada orang baru.
Saat film Sore rilis, entah kenapa aku tertarik untuk menontonnya. Di tengah jadwal yang cukup brutal, aku akhirnya menyempatkan diri pergi ke bioskop. Ketika keluar dari sana, rasanya aku mendapatkan hiburan sekaligus tamparan.
Mungkin sebenarnya kesadaran itu sudah lama ada di kepalaku. Film itu hanya datang pada waktu yang tepat dan membuatku melihat sesuatu yang selama ini terus kuhindari: pada akhirnya, aku memang tidak bisa mengubah seseorang hanya karena aku sangat ingin mereka berubah.

Poster: Cerita Films · desain Evan Wijaya / IMP Awards
Aku mulai mencoba menerima apa yang sudah terjadi dan perlahan melepaskannya. Prosesnya tentu tidak langsung membuat semuanya baik-baik saja. Sebagai salah satu cara untuk melewati hari-hari itu, aku justru memilih memadatkan jadwalku dari pagi hingga malam. Ketika semuanya selesai, aku bisa langsung tidur karena sudah terlalu lelah—dan setidaknya, aku tidak lagi menghabiskan malam dengan doom scrolling sampai subuh.
Dari Hitam-Putih ke Abu-Abu
Dari sana, cara pandangku juga perlahan berubah. Dunia ternyata tidak sesederhana hitam dan putih, sementara saat itu aku belum benar-benar tahu bagaimana melihat bagian abu-abunya. Aku mulai mencoba membuka diri lewat cerita-cerita lain—film, anime, dan apa pun yang bisa memberiku sudut pandang yang berbeda dari sudut pandangku sendiri.
Salah satunya adalah Clair Obscur: Expedition 33. Ada satu gagasan yang terus kubawa setelah memainkannya: pada titik tertentu, kita harus berani melihat apa yang benar-benar ada di hadapan kita, bukan terus bertahan pada gambaran tentang apa yang kita ingin ada. Mungkin aku tidak selalu sepakat dengan setiap pilihan karakternya, tetapi justru dari situlah aku belajar bahwa satu keadaan bisa terlihat sangat berbeda ketika dilihat dari sisi orang lain.

Key art: Sandfall Interactive / Kepler Interactive
Mungkin masalahnya selama ini bukan karena aku terlalu banyak berusaha. Aku hanya terlalu lama mengira bahwa selama usahaku cukup besar, aku juga bisa menentukan hasil akhirnya. Ketika sesuatu tetap berjalan buruk, refleks pertamaku adalah mencari kekurangan pada diriku sendiri: mungkin aku kurang sabar, kurang memahami, atau belum melakukan cukup banyak.
Padahal usaha dan kendali adalah dua hal yang berbeda.
Di balik semua itu, aku tidak benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi. Ada banyak bagian yang tetap pahit ketika kuingat, tetapi pengalaman-pengalaman itu ikut membentuk caraku melihat diriku sendiri sekarang. Kesedihan dan kelemahan adalah bagian dari menjadi manusia. Yang mungkin lebih penting adalah apa yang kemudian kita lakukan setelah mengalaminya.
Menjalani Bagianku
Dan melepaskan, bagiku sekarang, bukan berarti berhenti peduli.
Aku masih bisa mencoba, membantu, berharap, bahkan memperjuangkan sesuatu. Hanya saja, aku tidak lagi ingin menganggap hasil akhirnya sebagai sesuatu yang sepenuhnya bisa kutentukan. Ada titik ketika aku sudah melakukan bagianku, dan setelah itu orang lain juga berhak menentukan bagiannya sendiri.
Beberapa waktu lalu, aku menyukai seseorang dan memilih untuk mengatakannya. Kali ini, aku tidak datang dengan permintaan apa pun. Aku hanya ingin dia tahu apa yang kurasakan.
Setelah itu, aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Saat menulis bagian ini, aku sedang berada di Jakarta, mengeksplorasi banyak tempat dan melihat hal-hal baru. Aku sudah menyampaikan yang ingin kusampaikan; selebihnya, aku tetap punya hari-hariku untuk dijalani.
Aku hanya tidak ingin suatu hari menyesal karena tidak pernah mengatakannya. Namun, mengungkapkan perasaan bukan berarti meminta seseorang untuk merasakan hal yang sama. Kejujuran dan keberanian untuk menyampaikan adalah bagianku. Bagaimana dia menerima semua itu adalah bagiannya.
Aku tidak tahu apakah sekarang aku sudah benar-benar pandai melepaskan. Mungkin belum. Tetapi setidaknya aku mulai belajar berhenti bertanya, “Apa lagi yang bisa kulakukan agar semuanya berubah?” dan menggantinya dengan, “Apakah bagianku sudah kulakukan?”
Kalau jawabannya iya, mungkin sisanya memang bukan lagi milikku.
Menjalani bagianku, lalu melepaskan sisanya.

