Cerita di Balik The Art of Olympiad Geometry

19 minute read

Published:

For Those Who Come After.

Jika ditarik jauh ke belakang, cerita The Art of Olympiad Geometry tidak dimulai ketika saya membuka LaTeX dan mengetik halaman pertamanya. Cerita buku ini justru dimulai bertahun-tahun sebelumnya: ketika saya kebingungan menghadapi soal olimpiade, berkeliling mencari buku, dan belum tahu bagaimana seseorang seharusnya berpikir saat berhadapan dengan soal matematika yang sulit.

Tulisan ini adalah cerita mengenai perjalanan tersebut—tentang buku-buku yang mengubah cara saya belajar, pengalaman mengajar yang mengubah cara saya menjelaskan, sebuah game yang mengingatkan kembali tujuan saya menulis, dan berbagai keputusan kecil yang akhirnya membentuk AOG seperti sekarang. (Em dash ``—’’ di sini bukan AI generated, tapi saya mencoba belajar menggunakannya :lol:)

Awal Mengenal Olimpiade

Dari IPA ke Olimpiade Matematika

Saya lahir di keluarga yang tidak mengetahui apa-apa tentang olimpiade, khususnya olimpiade matematika. Ketika duduk di bangku SD, saya justru lebih tertarik mempelajari IPA karena buku-bukunya dipenuhi gambar yang beragam dan warna-warni. Sejak kelas 3 SD, bacaan tentang alam semesta terasa jauh lebih menarik bagi saya. Saya bahkan masih ingat pernah tiba-tiba bertanya tentang black hole setelah membaca sebuah buku di perpustakaan.

Pertemuan pertama saya dengan olimpiade matematika terjadi karena diminta guru untuk mengikutinya saat kelas 5 SD. Saya mengira lomba tersebut hanya akan menguji soal-soal matematika seperti biasanya. Setidaknya, itulah yang saya pikirkan sebelum melihat soal yang diberikan.

Nyatanya, hampir semua soal tidak berhasil saya selesaikan. Mungkin hanya tiga atau empat soal yang bisa saya kerjakan. Anehnya, kegagalan itu justru membuat saya tertarik. Soal-soalnya terasa menantang dan berbeda dari matematika yang selama ini saya kenal. Dari situlah saya mulai menyukai matematika dan perlahan masuk ke dunia olimpiade.

Mencari Buku dan Belajar Mandiri

Pada waktu itu, referensi untuk belajar olimpiade matematika masih sangat terbatas. Di kota saya pun tidak banyak toko buku—seingat saya, hanya ada dua yang cukup dikenal. Saya sudah mencari buku olimpiade di keduanya, tetapi tidak menemukan apa-apa. Di perpustakaan sekolah juga tidak ada.

Saya baru mulai menemukan buku olimpiade matematika di toko buku ketika sudah SMP. Jika lolos ke babak semifinal dan berkesempatan mengikuti perlombaan di luar kota, seperti Surabaya atau Malang, sebelum pulang saya terkadang menyempatkan diri mampir ke Gramedia untuk mencari buku.

Dari berbagai buku olimpiade yang saya temukan, pola penyajiannya kurang lebih sama:

  1. kumpulan soal beserta pembahasannya; atau
  2. materi singkat, beberapa contoh soal, kemudian latihan.

Buku-buku itu memberi saya banyak soal, tetapi belum membantu saya memahami bagaimana cara berpikir ketika mengerjakan soal olimpiade. Saya sempat mengira bahwa mengerjakan sebanyak mungkin variasi soal akan cukup membantu. Namun, ketika kembali menghadapi soal baru, hampir semuanya tetap tidak bisa saya selesaikan.

Saya juga tidak mempunyai pembimbing olimpiade khusus karena biayanya relatif mahal. Sebagian besar hal yang saya pelajari akhirnya diperoleh secara mandiri. Pada masa inilah saya mulai suka menulis materi—setidaknya agar adik-adik kelas saya kelak tidak mengalami kekurangan sumber belajar yang sama.

Buku yang Mengubah Cara Belajar

Euclidean Geometry in Mathematical Olympiads

Saat kelas 9, saya mulai mempersiapkan diri untuk olimpiade tingkat SMA. Seorang teman memperkenalkan saya kepada sebuah buku yang khusus membahas geometri: Euclidean Geometry in Mathematical Olympiads, atau EGMO, karya Evan Chen.

Sampul buku Euclidean Geometry in Mathematical Olympiads karya Evan Chen
Euclidean Geometry in Mathematical Olympiads karya Evan Chen—buku yang pertama kali memperkenalkan saya pada penyajian geometri yang terasa intuitif.

Itu adalah pertama kalinya saya membaca buku matematika berbahasa Inggris, sehingga tentu saja pada awalnya terasa sulit. Meski begitu, cara penyajiannya sangat menarik. Berbeda dari buku-buku yang sebelumnya saya temui, EGMO terasa seolah-olah sedang berbicara langsung kepada saya. Contoh soalnya tidak hanya disertai solusi, tetapi juga intuisi di baliknya. Untuk pertama kalinya, saya mulai mendapat gambaran tentang proses berpikir yang membawa seseorang menuju sebuah solusi.

Tetap saja, jarak antara isi buku tersebut dan kemampuan saya saat itu masih cukup lebar. Jika tidak salah ingat, saya membutuhkan kurang lebih satu bulan hanya untuk menyelesaikan dan memahami Bab 1. Namun, keberadaan petunjuk serta pembahasan untuk soal-soal terpilih membuat proses itu terasa mungkin untuk dijalani. Tidak banyak buku yang saya kenal saat itu menyediakan hal serupa.

Di titik ini, geometri mulai menjadi bidang favorit saya.

Mempelajari EGMO kemudian terasa lebih ringan setelah saya memperoleh pembinaan yang memadai di MAN 2 Kota Malang. Meski demikian, hingga akhir kelas 10 saya masih kesulitan menemukan intuisi ketika berhadapan dengan soal-soal pembuktian tingkat SMA. Dalam perlombaan, saya sering menyerah lalu berpindah ke soal berikutnya. Akibatnya, tidak banyak soal yang benar-benar berhasil saya selesaikan.

The Art and Craft of Problem Solving

Suatu hari, saya menemukan The Art and Craft of Problem Solving karya Paul Zeitz di laboratorium matematika. Bagian awal buku tersebut membahas bagaimana menghadapi soal olimpiade yang memang dirancang untuk menjadi sulit.

Sampul buku The Art and Craft of Problem Solving karya Paul Zeitz
The Art and Craft of Problem Solving karya Paul Zeitz—buku yang mengajarkan saya untuk bertahan lebih lama bersama sebuah soal.

Buku ini menyadarkan saya bahwa menyelesaikan soal matematika yang menantang tidak selalu berawal dari satu ide cemerlang yang datang secara tiba-tiba. Sering kali, prosesnya justru panjang: mencoba berbagai kemungkinan, membuat eksperimen kecil, menemukan pola, gagal, lalu mencoba lagi. Ketika teknik-teknik tersebut mulai saya terapkan, saya merasakan perkembangan yang cukup signifikan.

Belajar Bertahan Lebih Lama

Kedua buku tersebut memberikan sudut pandang yang benar-benar berbeda kepada saya. Sebelumnya, saya mudah menyerah; mungkin hanya sepuluh sampai lima belas menit saya bertahan pada satu soal sebelum melihat pembahasan atau beralih ke soal lain.

Saya kemudian memahami bahwa semakin tinggi tingkat kesulitan sebuah soal, semakin banyak pula waktu yang mungkin dibutuhkan. Sejak saat itu, saya mulai menyediakan waktu yang lebih panjang untuk setiap soal dan menahan diri untuk tidak segera melihat pembahasannya.

Perubahan yang paling penting bukan sekadar bertambahnya teknik yang saya kuasai, melainkan bertambahnya kesediaan saya untuk tetap tinggal bersama suatu masalah.

Dari Belajar Menjadi Mengajar

Mengajarkan Proses Berpikir

Pada masa awal mengajar olimpiade, pembahasan yang saya berikan dalam problem session kurang lebih masih menyerupai pembahasan di buku: solusi ditulis secara runtut, kemudian dijelaskan dari awal hingga akhir.

Seiring waktu—terlebih pada zaman ketika pembahasan soal semakin mudah ditemukan dengan bantuan internet dan AI—saya merasa bahwa memberikan solusi akhir saja tidak lagi cukup. Saya mulai mengubah cara mengajar dengan turut menjelaskan intuisi dan proses berpikir saya: apa yang pertama kali saya perhatikan, percobaan apa yang saya lakukan, mengapa suatu pendekatan gagal, dan petunjuk apa yang akhirnya mengarah kepada solusi.

Cara ini membantu siswa memahami bagaimana menghadapi soal yang lebih kompleks, bukan sekadar meniru langkah-langkah yang sudah selesai. Tentu saja, sebuah intuisi kadang masih terdengar seperti “ide dari langit”. Karena itulah latihan soal yang berkualitas dan dilakukan secara mandiri tetap tidak dapat digantikan. Intuisi perlu dilatih, bukan hanya diceritakan.

Menurut saya, penjelasan mengenai proses berpikir akan membuat siswa memahami matematika lebih dalam daripada sekadar menyalin penyelesaian dari textbook. Namun, kita hanya dapat menjelaskan proses itu dengan jujur apabila kita sendiri telah benar-benar berjuang mengerjakan soalnya.

Pengalaman Menulis Sebelum AOG

Handout dan Keinginan Menulis

Sebelum AOG, saya sudah cukup sering menulis handout mengenai materi tertentu dan membagikannya secara publik. Keinginan dasarnya masih sama: saya tidak ingin orang lain kekurangan sumber belajar olimpiade matematika, khususnya yang tersedia dalam bahasa Indonesia.

Niat untuk menulis dokumen yang lebih besar—bahkan sebuah buku—sebenarnya sudah muncul berkali-kali. Sayangnya, kebanyakan berhenti sebagai wacana. Kadang saya tiba-tiba tertarik mengerjakan hal lain; kadang kesibukan membuat tulisan tersebut tidak berlanjut.

Proyek Buku Pertama

Ketika masih berada di semester awal kuliah, saya pernah mendapat tawaran untuk menulis bagian aljabar dan geometri dalam sebuah proyek buku bersama. Karena melibatkan beberapa bidang, buku tersebut baru dapat diterbitkan setelah seluruh bagian selesai.

Deadline yang berdekatan dengan kesibukan kuliah membuat proses menulisnya terasa kurang menyenangkan karena saya harus terus mengejar waktu. Bagian saya akhirnya selesai, tetapi beberapa bagian lain belum juga rampung. Pada akhirnya, buku tersebut tidak pernah diterbitkan.

Pengalaman Menjadi Quality Control

Pada proyek berikutnya, saya terlibat dalam penulisan buku materi Kontes Terbuka Olimpiade Matematika. Tugas saya bukan hanya menulis, tetapi juga melakukan quality control: menilai apakah materinya layak dibaca oleh khalayak umum, termasuk pembaca yang masih pemula.

Menurut saya, proses pemeriksaan justru lebih melelahkan daripada menulis. Namun, berbeda dari proyek sebelumnya, buku ini akhirnya berhasil diterbitkan. Pengalaman tersebut memberi saya gambaran yang lebih nyata mengenai apa saja yang diperlukan untuk membawa sebuah naskah sampai benar-benar menjadi buku.


For Those Who Come After

Mengenal Clair Obscur: Expedition 33

Ilustrasi utama Clair Obscur: Expedition 33
Clair Obscur: Expedition 33—pengingat untuk meninggalkan sesuatu bagi mereka yang datang setelahnya.

Pada awal 2026, banyak video mengenai Clair Obscur: Expedition 33—atau E33—berseliweran di Reels saya setelah game tersebut meraih berbagai penghargaan pada 2025. Awalnya saya cuek saja karena memang kurang tertarik membeli game berbayar (hehe). Saat itu saya masih lebih sering memainkan game kompetitif seperti Valorant.

Saya baru mulai penasaran ketika Orlando menunjukkan menu screen E33 melalui WhatsApp. Beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya saya membeli game berbayar di Steam.

Karena masih disibukkan kuliah dan mengajar, saya baru dapat memainkannya pada malam hari, biasanya setelah selesai mengajar sekitar pukul sepuluh. Ketika pertama kali membuka game dan masuk ke menu utama, saya hanya diam cukup lama untuk mendengarkan musiknya. Setelah mulai bermain, grafik dan musiknya membuat saya berpikir, “Oke, pengeluaran ini worth it.”

Sampai akhir prolog, saya sudah terlanjur menyukai ceritanya dan mulai berpikir untuk berhenti memainkan game kompetitif. Mungkin karena terlalu tertarik, sesi pertama saya berlangsung hingga empat jam.

Pesan For Those Who Come After

Secara singkat, E33 bercerita tentang penduduk Lumière yang terus berusaha mengalahkan Paintress. Ekspedisi demi ekspedisi telah diberangkatkan selama puluhan tahun, tetapi belum ada yang berhasil. Meskipun demikian, mereka yang gagal selalu meninggalkan sesuatu yang dapat membantu ekspedisi berikutnya.

Kalimat For Those Who Come After berulang kali terdengar dalam dialognya. Salah satu hal yang paling membekas bagi saya adalah kebiasaan Gustave menulis jurnal perjalanan setiap malam agar suatu hari dapat dibaca oleh murid-muridnya.

Setelah menyelesaikan game tersebut, saya kembali teringat kepada tujuan awal saya menulis. Saya mungkin tidak dapat menghilangkan seluruh kesulitan yang akan dihadapi pelajar berikutnya. Namun, saya dapat meninggalkan sesuatu yang membuat perjalanan mereka sedikit lebih mudah.

Dari situlah keinginan untuk benar-benar mewujudkan sebuah buku muncul kembali.

Ketika AOG Mulai Ditulis

Mengapa Geometri?

Alasan pertama saya memilih geometri sebagai topik buku pertama mungkin sudah terlihat dari cerita sebelumnya: geometri adalah bidang yang paling saya sukai.

Namun, ada alasan lain yang lebih personal. Saya ingin membuat sebuah jembatan bagi pemula sebelum mereka melanjutkan ke EGMO sebagai bahan belajar tingkat lanjut. Saya masih mengingat betapa sulitnya memahami bab pertama EGMO ketika kemampuan saya belum cukup matang. AOG saya rancang agar pembaca tidak perlu melakukan lompatan sebesar yang dahulu harus saya lakukan.

Awal Penulisan dan Pemilihan Judul

Ketika mulai menulis, saya sendiri belum mengetahui buku ini akan diberi judul apa. Saya memilih untuk memikirkannya sambil berjalan. Pada akhirnya, judul tersebut saya finalisasi menjadi The Art of Olympiad Geometry, yang mengambil inspirasi dari buku guru saya, The Art of Number Theory.

Sejak awal, saya menetapkan dua tujuan utama:

  1. membantu siswa belajar olimpiade geometri secara mandiri, komprehensif, dan intuitif; serta
  2. membantu guru atau pembina dalam mengajarkan olimpiade matematika di sekolah.

Saya ingin tulisan dalam buku ini berperan layaknya seorang pembimbing yang berbicara langsung kepada pembaca, khususnya bagi siswa yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan olimpiade. Di sisi lain, saya berharap materi yang tersusun dengan baik juga dapat membantu guru membangun proses belajar yang lebih berkualitas.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, AOG menggunakan beberapa pendekatan berikut.

Contoh soal dengan walkthrough dan solusi

Ketika mengerjakan soal, biasanya terdapat perjalanan berpikir yang membawa kita menuju jawaban akhir. Perjalanan tersebut tidak selalu sama dengan solusi final yang sudah dirapikan agar runtut dan langsung menuju inti.

Karena itu, pada contoh-contoh tertentu saya memisahkan walkthrough dari solusi. Melalui walkthrough, pembaca dapat melihat bagaimana sebuah ide ditemukan. Setelah itu, solusi menunjukkan bagaimana ide tersebut dituliskan secara matematis dengan rapi.

Latihan dengan petunjuk bertahap

Pengalaman belajar dari EGMO membuat saya menyadari pentingnya petunjuk yang diberikan sedikit demi sedikit. Jika pembahasan lengkap langsung tersedia di depan mata, godaan untuk membacanya sampai selesai akan sangat besar. Akibatnya, esensi latihan soal dapat hilang.

Petunjuk bertahap memberi pembaca kesempatan untuk kembali mencoba setelah memperoleh dorongan kecil. Ketika akhirnya berhasil menyelesaikan soal, kepuasannya tentu berbeda dibandingkan jika sejak awal hanya mengikuti pembahasan.

Solusi untuk latihan terpilih

Dalam setiap bagian, saya hanya dapat memberikan sekitar empat sampai enam contoh soal, bergantung pada kebutuhan materi. Selebihnya, pembaca diberi kesempatan untuk mencoba sendiri. Beberapa latihan dengan ide yang sangat menarik saya pilih untuk disertai solusi lengkap.

Mengapa tidak semua latihan diberikan solusi? Saya juga ingin pembaca tumbuh menjadi pembelajar yang mandiri: berani menelusuri sumber soal, mencari diskusi di internet, atau bertanya melalui Art of Problem Solving. Karena sumber setiap soal dicantumkan, proses penelusuran tersebut tetap dapat dilakukan dengan jelas.

Rancangan Buku yang Terus Berubah

Memisahkan Tingkat Basic dan Intermediate

Pada rancangan pertama, tingkat basic dan intermediate masih digabungkan dalam satu buku: empat bab dasar, kemudian dilanjutkan sejumlah bab tingkat menengah yang mengarah kepada soal uraian.

Susunannya juga jauh lebih padat daripada versi sekarang. Bab 1 awalnya merupakan gabungan materi yang kini menjadi Bab 1 dan Bab 3. Bab 2 memuat materi yang kemudian tersebar ke Bab 2, Bab 3, serta sebagian kecil Bab 5. Bab 3 berkembang menjadi Bab 6 dan Bab 7, sedangkan Bab 4 kemudian menjadi Bab 8.

Setelah berdiskusi dengan guru saya, Abdul Mu’in, kami menilai rancangan tersebut akan terlalu berat bagi pemula. Bahkan Bab 1 saja sudah mencapai kurang lebih empat puluh halaman. Saya setuju bahwa pembaca pemula mungkin sudah merasa stres sebelum sempat benar-benar menikmati isinya.

Akhirnya, kami memutuskan untuk memisahkan tingkat basic dan intermediate menjadi dua buku. Keputusan ini membuat tingkat kesulitan buku pertama lebih terarah dan memberi ruang lebih luas untuk menjelaskan ide-ide dasar.

Memecah Materi Menjadi Lebih Banyak Bab

Beberapa materi yang semula berada dalam satu bab juga saya pisahkan menjadi dua. Sebagaimana pembagian Bab 1 hingga Bab 4, misalnya, pembahasan mengenai poligon dan lingkaran ditempatkan secara terpisah.

Pemisahan tersebut memang membuat pekerjaan saya bertambah. Namun, saya memperoleh ruang untuk mengembangkan lebih banyak penjelasan dan menjaga agar setiap bab mempunyai fokus yang jelas. Hasil akhirnya terasa lebih memuaskan dibandingkan rancangan semula.

Sistem Reward Point

Inspirasi lain datang dari E33. Setelah menyelesaikan Bab 6, saya beristirahat sejenak dengan kembali memainkan game tersebut dan mencoba melawan Simon, salah satu boss tersulit. Saya sudah tidak tahu berapa kali kalah, tetapi kali itu akhirnya saya berhasil menang. Kepuasannya terasa sepadan dengan reward yang sangat overpowered.

Simon dalam Clair Obscur: Expedition 33
Simon, salah satu boss tersulit dalam Clair Obscur: Expedition 33—dan pemicu ide sistem reward point di AOG.

Saat itulah muncul pikiran: bagaimana jika latihan dalam buku juga mempunyai sistem reward point?

Gagasan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Saya langsung teringat kepada Olympiad Training for Individual Study, atau OTIS, yang menerapkan sistem serupa. Namun, pengalaman mengalahkan Simon membuat ide tersebut terasa cocok untuk diterapkan dalam AOG.

Poin pada setiap soal tidak hanya menunjukkan tingkat tantangan, tetapi juga memberi pembaca sebuah bentuk progres kecil. Soal yang berhasil diselesaikan bukan sekadar soal yang dicoret dari daftar, melainkan pencapaian yang dikumpulkan sepanjang perjalanan belajar.

Dalam setiap bab, memilih soal mungkin merupakan bagian yang paling melelahkan. Saya harus menjelajahi dan mengerjakan banyak soal sebelum menentukan mana yang layak dimasukkan. Sebagian merupakan soal yang pernah saya kerjakan atau saya buat sendiri, tetapi tidak sedikit pula yang baru saya temukan ketika menelusuri Art of Problem Solving.

Semua soal tetap harus saya kerjakan kembali untuk menentukan poin dan menyusun petunjuknya. Banyaknya petunjuk tidak selalu berbanding lurus dengan poin. Soal berpoin 5 di Bab 1, misalnya, dapat memiliki lebih banyak petunjuk daripada soal dengan poin yang sama di Bab 5. Pertimbangannya adalah tingkat kesulitan relatif pada setiap bab dan sejauh mana materi telah dipelajari pembaca.

Petunjuk pun berkali-kali mengalami revisi. Saya ingin setiap petunjuk cukup kuat untuk mendorong pembaca maju, tetapi tidak terlalu jelas hingga membocorkan bagian terpenting dari solusi. Menemukan batas di antara keduanya ternyata tidak mudah.

Mu’in membantu proses pemeriksaan dengan memberikan pendapat mengenai kelebihan dan kekurangan setiap bab. Setelah pemeriksaan per bab selesai, saya melakukan pemeriksaan akhir dari awal: membaca kembali materi serta mencoba ulang seluruh soal. Ya, bagian ini memang sangat melelahkan.

Pemilihan soal juga tidak pernah benar-benar sederhana. Kadang, setelah menulis cukup lama, saya menemukan soal lain yang sangat bagus dan mulai mempertimbangkan untuk mengganti soal yang sudah ada. Namun, tidak semua soal bagus dapat dimasukkan. Setiap bab saya batasi hingga dua puluh latihan agar jumlahnya tetap masuk akal dan materi yang diuji tetap seimbang.

Menggambar dengan LaTeX

Pembaca AOG mungkin menyadari bahwa saya sering menyajikan diagram secara berulang dan bertahap ketika menjelaskan suatu ide. Hal itu memang disengaja. Saya tidak ingin gambar kompleks muncul begitu saja; unsur-unsurnya ditambahkan sedikit demi sedikit mengikuti perkembangan solusi.

Karena seluruh buku ditulis menggunakan LaTeX, gambar-gambar tersebut juga dibuat melalui sintaks. Prosesnya terkadang melelahkan, tetapi saya tetap berusaha menghasilkan diagram yang tajam dan mudah dibaca. Tantangan yang tidak kalah besar justru memastikan tata letaknya berada di tempat yang tepat—bagian yang kadang membuat saya cukup pusing, xD.

Berikut salah satu potongan kode TikZ yang digunakan dalam proses tersebut.

Lihat kode TikZ
\begin{tikzpicture}[font=\small, scale=2.5]
    \coordinate[label=below:$A$] (A) at (0,0);
    \coordinate[label=below:$B$] (B) at (2.65,0);
    \coordinate[label=above:${C,B'}$] (C) at (1.32,2.29);
    \coordinate[label=below:$P$] (P) at (.94,.33);
    \coordinate[label=above:$C'$] (C') at (-1.32,2.29);
    \coordinate[label=left:$P'$] (P') at (.19,.98);

    \filldraw[gray!40,draw=black] (A)--(P)--(P')--cycle;
    \draw[thick] (C)--(C')--(A);
    \draw[ultra thick] (B)--(P);
    \draw[ultra thick] (C)--(P');
    \draw[thick] (C)--(P);
    \draw[thick] (A)--(B)--(C)--cycle;

    \foreach \s in {A,B,C,P,C',P'}
        \filldraw (\s) circle (.6pt);
\end{tikzpicture}

Salah satu diagram geometri dalam AOG

Membuka Akses untuk Pembaca

Tujuan utama buku ini bukan sekadar agar terjual sebanyak mungkin. Karena itu, saya membagikan Bab 1 dan Bab 6 secara gratis agar calon pembaca dapat menilai lebih dahulu apakah materi, tingkat kesulitan, dan gaya penyajiannya sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika dirasa cocok dan ingin mempelajari bagian lainnya, barulah mereka dapat mempertimbangkan untuk membeli bukunya.

Kedua bab tersebut juga boleh digunakan dan diperbanyak sebagai bahan mengajar oleh guru atau pembina olimpiade, tetapi tidak untuk diperjualbelikan. Dengan cara ini, saya berharap manfaat AOG tidak hanya dirasakan oleh siswa yang belajar secara mandiri, tetapi juga dapat diteruskan kepada lebih banyak siswa melalui guru dan pembinanya.


Untuk Mereka yang Datang Setelahnya

Dulu, saya harus mencari buku olimpiade di perpustakaan dan toko buku setiap kali berkesempatan pergi ke luar kota. Sekarang, saya mencoba menulis buku yang saat itu ingin saya temukan.

AOG tidak lahir karena saya selalu mengetahui cara terbaik untuk belajar geometri. Sebaliknya, buku ini lahir karena saya pernah kebingungan, menyerah terlalu cepat, dan kesulitan menemukan sumber belajar yang dapat menjelaskan jalan berpikir di balik sebuah solusi. Pengalaman itulah yang kemudian saya coba ubah menjadi sesuatu yang dapat digunakan oleh orang lain.

Saya berharap AOG dapat menemani siswa lain sejak awal perjalanan mereka—lebih cepat daripada ketika saya dahulu menemukan sumber belajar yang tepat. Saya juga berharap buku ini dapat terus berkembang melalui saran dan kritik dari siswa, guru, maupun pembina yang menggunakannya.

Mungkin itulah arti buku ini bagi saya: sebuah catatan dari seseorang yang pernah kesulitan, ditinggalkan agar perjalanan orang berikutnya dapat menjadi sedikit lebih ringan.

For Those Who Come After.

Informasi lebih lanjut mengenai buku ini dapat dibaca pada halaman The Art of Olympiad Geometry.